Menjadi guru yang ideal dan inovatif adalah sebuah tuntutan yang tak
bisa dielakan. Masa depan bangsa ini ditentukan oleh kader-kader muda
bangsa, sedangkan penanggung jawab utama masa depan mereka berada di
pundak guru. Sebab guru yang langsung berinteraksi dengan peserta didik
dalam membentuk kepriadian, memberikan pemahaman, mengembangkan
imajinasi dan cita-cita, membangkitkan semangat dan menggerakan kekuatan
mereka.
Dari sosok seorang gurulah, para siswa membayangkan masa
depannya, mencanangkan sebuah impian hidupnya, dan melihat jauh ke
angkasa, terbang setinggi langit laksana anak panah yang lepas dari
busurnya. Untuk menjadi guru ideal dan inovatif yang mampu melesatkan
anak panah dengan kekuatan penuh ke angkasa, maka seorang guru perlu
melakukan beberapa hal berikut:
1. Menguasai materi pelajaran secara mendalam
Menguasai materi pelajaran adalah syarat utama menjadi guru ideal.
Seorang guru harus mengajar materi sesuai dengan keahliannya. Guru yang
ideal adalah guru yang mengajar materi pelajaran yang menjadi bidang,
bakat, dan spesialisasinya. Bila guru tidak memiliki bidang sesuai
keahliannya maka murid bisa menjadi korban. Saat ini tantangan dunia
global semakin dinamis, kompetitif dan akseleratif menuntut guru
menyesuaikan diri dengan pembaharuan-pembaharuan yang ada, meningkatkan
pendalaman materi dan mampu membuat teori-teori baru yang progresif.
2. Mempunyai wawasan luas
Seorang guru harus mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan
teknologi informasi yang terjadi di belahan dunia, sehingga cakrawala
pemikirannya menjadi luas, mendunia dan up to date. Selalu ada hal baru
yang disampaikan seorang guru akan menjadi salah satu daya tarik murid
yang bisa menggugah semangatnya mengikuti pelajaran. Para siswa juga
akan merekam penjelasan gurunya dengan baik. Namun pemikiran guru yang
luas sebaiknya memiliki hubungan dengan materi yang diajarkan.
3. Komunikatif
Seorang guru penting berkomunikasi dengan anak didiknya, seperti
menyapa mereka dan menanyakan bagaimana kondisinya. Guru yang suka
menyapa dan memperhatikan kondisi muridnya lebih diterima anak didiknya.
Ketika guru bertanya kepada anak didiknya, mereka merasa diperhatikan
sehingga guru dianggap bagian darinya. Komunikasi guru tersebut sangat
penting sebagai pendekatan psikologis kepada anak didiknya. Aspek
penerimaan seorang guru menjadi faktor penting bagi kelancaran kegiatan
belajar mengajar di dalam kelas.
4. Dialogis
Tugas
seorang guru tidak hanya mengajar, tapi juga menggali potensi terbesar
anak didiknya. Tugas ini sulit terlaksana kalau dalam mengajar seorang
guru hanya mengandalkan metode ceramah, sekedar memberikan materi an
sich, tanpa ada ruang dialog. Metode dialog interaktif melibatkan dua
atau tiga arah, misalnya murid bertanya, guru menanggapi, lalu
ditanggapi lagi oleh siswa lain. Dalam metode dialog interaktif guru
tidak boleh merasa paling benar, pintar, dan paling tahu segala masalah.
5. Menggabungkan teori dan praktik
Bila dalam pembelajaran anak didik hanya dijejali dengan teori tanpa
ada praktik, maka mereka akan mudah jenuh. Praktik sangat diperlukan
sebagai media menurunkan, mengendapkan, dan melekatkan pemahaman materi
pada otak anak didik. Praktik bisa berupa turun langsung ke lapangan
atau ke laboratorium. Dengan praktik, ilmu dapat berkembang dengan pesat
dan anak didik terlatih untuk menerapkan ilmu yang dipelajari. Praktik
menjadi suatu keharusan pada semua materi, khususnya materi yang
membutuhkan aplikasi sehari-hari. (Sumber: Bimbel Indonesia Official)